Selasa, 09 Februari 2016

Hati dan Penyesalannya

Otak ini dipenuhi oleh bisikan demi bisikan. Bisikan yang berisikan tentang kekesalan. Kekesalan akan apa, aku pun tak tahu. Aku hanya mendengarkan rintik hujan meneriakan nama mu tanpa henti dan begitu keras. Ah dasar hujan, dia tak mengerti bahwa suaranya tak sekencang suara dalam hatiku yang berteriak kata yang sama. Sampai saat ini tak ada yang mengetahui, bahkan aku pun tak mengetahui mengapa hatiku berteriak. Namun suara nya kian lama makin tak terdengar. Jangankan untuk jarak yang jauh, kecoa yang menggerogoti otak ku pun tak mendengarnya. Entah karena suara teriakannya yang terlalu pelan, atau mungkin semuanya tak merisaukan suaranya yang kian hari kian parau. Kasihan memang, namun apa dayaku sebagai pemilik hati. Sebenarnya aku sudah sering berusaha mengutarakan kerisauan hatiku ini pada semuanya. Namun semuanya seakan tak perduli dan tak acuh kepadaku. Hanya kebingungan yang sering datang menyelimutiku dalam dingin. Mungkin diriku lah yang salah, tak bisa mengutarakan apa yang si hati ingin utarakan. Mungkin juga bahasa si hati yang terlalu rumit sehingga aku sebagai pemilik tak mampu menerjemahkannya. Aku tak tahu yang mana yang benar. Yang jelas ketika diriku dan hati berselisih mengenai siapa yang salah dan siapa yang benar, engkau kemudian mendekat. Dan berbisik tak jelas namun yakin sambil tersenyum dan kemudian diam. Hati berteriak parau "Ku menyesal tak datang lebih dulu dari nya".

A2F A.B.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar