Senin, 25 Januari 2016

Lupa ( Puisi )

Jadi sampai dimana kita ?
Oh ya, aku lupa
Kalau ternyata kamu lupa
Telah sampai dimana kita
Ah tak penting telah sampai dimana
Tapi ku penasaran sampai dimanakah kita
Jadi, sampai dimana kita ?

A2F A.B.

Senin, 18 Januari 2016

Tembang Rindu ( Puisi )

Rindu ini mengurungku sangat rapat
Ingin ku genggam tanganmu dengan erat
Namun tak kuasa aku menembus jeruji besi rindu ini
Tanpa senyum candamu disini menemani
Tak dapat rindu ini ku akhiri sendiri

A2F A.B.

Nyanyian Bimbang ( Puisi )

Pada awalnya kau begitu yakin
Akan perjalanan yang kau tempuh sebelumnya
Sekarang ketika kau tiba di persimpangan
Kau bimbang tentukan arah tujuan

Sebentar lagi hujan turun
Berteduhlah dulu dimana pun kau mau
Namun ketika hujan reda dan matahari mulai berayun
Ku harap kau tetap disitu melihat persimpangan disebrangmu
Jangan terburu-buru, buat dirimu yakin dahulu.

A2F A.B.

Akhir ( Puisi )

Jangan kau sekali-sekali berbicara tentang akhir
Karena akhir adalah yang kita ciptakan sendiri
Jika memang kau belum siap melangkah
Jangan memaksakan kaki rapuh mu untuk berlari

Berlari bersamaku bisa kita lakukan kapan saja
Sebelum kematian memisahkan
Mati mungkin terlalu jauh untuk disebutkan
Namun apa yang kita tahu tentang itu?

A2F A.B.

Aku, Matahari dan Bulan ( Puisi )

Jujurlah walaupun itu membunuhmu
Kalimat ini penuh haru
Rindu ini pun bisa berbuah pilu
Bisa juga bernyanyi merdu, siapa yang tau?

Begini saja sudah cukup indah
Asal tak patah apalagi terbelah
Terus mencoba mencari celah
Dan tak pernah sedikitpun merasa lelah

Namun semua kisah pasti punya akhiran
Akhir yang sudah ditentukan oleh Tuhan
Harus tetap diperjuangkan, bukan?
Jangan hanya sampai harapan dan tak jadi kebenaran
Jangan pula hanya menjadi kebetulan

Tak ada salahnya menjadi dirimu
Bukan diriku pula yang salah selalu
Jika kau lelah, berceritalah padaku
Jangan hanya bercerita kepada batu

Kau hanya harus tau
Bulan pun menunduk tersungkur malu
Ketika kau berjalan dibawah sinar nya yang anggun
Cahaya mu bahkan membuat matahari diam tertegun
Aku lah matahari dan bulan itu.

A2F A.B.

Kamis, 14 Januari 2016

Naif ( Puisi )

Naif kah diriku
Jika masih mengharapkanmu
Dengan darah yang mengalir berwarna hitam
Dengan luka yang terbuka sisa baku hantam

Jikalau memang diriku naif
Lalu bagaimana dengan si Pungguk yang merindukan bulan ?

A2F A.B.

Naif

Malam ini kurengkuh terang bulan yang nampak enggan memancarkan sinarnya. Ku tatap nanar cahaya bintang yang juga enggan menampakan diri karena malu, malu akan kamu, kamu yang ku rindu. Dingin yang biasanya begitu menusuk, sayup-sayup ku dengar berlari menjauh karena tak mampu dinginkan hangat senyummu. Jadi malam ini tema nya sebenarnya dirimu, namun hanya keraguan yang kulihat dan ingin ku ceritakan. Ya, keraguanmu. Keraguanmu bukan tanpa alasan, sangat tepat sebenarnya. Keraguanmu akan diriku yang tak mampu, tak pantas, hina, jahat, dan masih banyak kata kotor yang sebenarnya pantas untuk mewakiliku namun tak kuasa ku menyebutkan karena malu. Malu akan mu yang begitu ku ingini. Malu sebenarnya adalah hal yang sangat tidak biasa bagiku. Bagiku yang biasa dicemooh tak tahu malu bahkan oleh orang yang paling tak tahu malu. Namun malu kepadamu berbeda, itu seperti kapak yang kapan saja bisa menancap ke punggungku. Kapak ini sebenarnya punyaku, hasil dari menuai pohon keburukanku sewaktu dulu. Namun bukankah kapak yang berkarat lebih berbahaya dari pada kapak yang biasanya ? 
Namun tak bisa aku menyalahkan kamu yang membuatku menjadi malu seperti ini. Bukankah asap hanya ada apabila terdapat api yang menyala ? Jadi siapa yang harus disalahkan? Tentu saja itu pertanyaan yang terus bolak-balik didalam otak ku yang tak begitu pandai. Apakah aku harus menyalahkan diriku yang dahulu karena pohon keburukannya telah membuat pohon kebaikan yang sekarang sedang ku tanam dan selalu ku sirami serta pupuki setiap hari tak dapat tumbuh besar ? Apakah aku harus menyalahkan diriku yang sekarang karena menanam pohon kebaikan dipot yang bagus sedangkan biasanya aku menanam pohon keburukan di pot yang buruk pula ? Apakah sebuah kesalahan apabila kita membuat sebuah perubahan, apalagi itu perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Meskipun pada waktu ini, nampaknya keburukan lebih memiliki nilai jual daripada kebanyakan kebaikan. Begitu enggan diriku meninggalkan pohon kebaikan yang aku tanam. Aku hanya merasa, rasa suka ku pada pohon kebaikan lebih besar daripada kepada pohon keburukan yang sebelumnya aku tanam. Aku tak begitu mengerti alasannya mengapa seperti itu. Jika aku boleh menebak, mungkin karena pohon kebaikan berbuah kebaikan pula. Itu hanya sebatas tebakanku, tak perlu dianggap serius. Sebab tak semua kebaikan yang kita tanam akan berbuah kebaikan pula, karena banyak hal penyebabnya. Aku tak mau menyebutkannya, aku hanya malas berdebat akan hal itu. Sekarang ketika kau tau aku kotor, sudi kah kau membersihkan lumpur yang masih menempel di pipiku, mengangkatku pergi dari kubangan air sisa guyangan kerbau ini? Aku ini kotor, namun kau bisa membersihkan ku sebenarnya jika kau mau. Tercermin dari sikap ku kepadamu selama ini.
Jadi dengan diriku yang kotor seperti ini, naif kah diriku jika masih mengaharapkanmu?

A2F A.B.

Rabu, 06 Januari 2016

Bukan Rahasia ( Puisi )

Tepat di waktu ini
Ku bertatap muka denganmu
Mungkin bukan hal yang kau nanti
Namun rindu tak mungkin rancu

Ku bercerita tentang kuda yang berlari kencang
Kau potong dengan cerita ikan yang berenang tenang
Begitu menarik sampai tak bisa ku mencari penghalang
Untuk sorot mata indahmu yang terang

Ketika sampai diujung cerita
Kau terlihat agak urung melanjutkan
Kuharap tak ada yang salah
Dengan kita yang enggan singgah ke persimpangan

Tatap matamu begitu tajam padaku
Seakan tahu tentang semua rahasia yang kusimpan
Mungkin memang benar kau tahu
Tentang aku yang terlalu kepadamu.

A2F A.B.