Kamis, 14 Januari 2016

Naif

Malam ini kurengkuh terang bulan yang nampak enggan memancarkan sinarnya. Ku tatap nanar cahaya bintang yang juga enggan menampakan diri karena malu, malu akan kamu, kamu yang ku rindu. Dingin yang biasanya begitu menusuk, sayup-sayup ku dengar berlari menjauh karena tak mampu dinginkan hangat senyummu. Jadi malam ini tema nya sebenarnya dirimu, namun hanya keraguan yang kulihat dan ingin ku ceritakan. Ya, keraguanmu. Keraguanmu bukan tanpa alasan, sangat tepat sebenarnya. Keraguanmu akan diriku yang tak mampu, tak pantas, hina, jahat, dan masih banyak kata kotor yang sebenarnya pantas untuk mewakiliku namun tak kuasa ku menyebutkan karena malu. Malu akan mu yang begitu ku ingini. Malu sebenarnya adalah hal yang sangat tidak biasa bagiku. Bagiku yang biasa dicemooh tak tahu malu bahkan oleh orang yang paling tak tahu malu. Namun malu kepadamu berbeda, itu seperti kapak yang kapan saja bisa menancap ke punggungku. Kapak ini sebenarnya punyaku, hasil dari menuai pohon keburukanku sewaktu dulu. Namun bukankah kapak yang berkarat lebih berbahaya dari pada kapak yang biasanya ? 
Namun tak bisa aku menyalahkan kamu yang membuatku menjadi malu seperti ini. Bukankah asap hanya ada apabila terdapat api yang menyala ? Jadi siapa yang harus disalahkan? Tentu saja itu pertanyaan yang terus bolak-balik didalam otak ku yang tak begitu pandai. Apakah aku harus menyalahkan diriku yang dahulu karena pohon keburukannya telah membuat pohon kebaikan yang sekarang sedang ku tanam dan selalu ku sirami serta pupuki setiap hari tak dapat tumbuh besar ? Apakah aku harus menyalahkan diriku yang sekarang karena menanam pohon kebaikan dipot yang bagus sedangkan biasanya aku menanam pohon keburukan di pot yang buruk pula ? Apakah sebuah kesalahan apabila kita membuat sebuah perubahan, apalagi itu perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Meskipun pada waktu ini, nampaknya keburukan lebih memiliki nilai jual daripada kebanyakan kebaikan. Begitu enggan diriku meninggalkan pohon kebaikan yang aku tanam. Aku hanya merasa, rasa suka ku pada pohon kebaikan lebih besar daripada kepada pohon keburukan yang sebelumnya aku tanam. Aku tak begitu mengerti alasannya mengapa seperti itu. Jika aku boleh menebak, mungkin karena pohon kebaikan berbuah kebaikan pula. Itu hanya sebatas tebakanku, tak perlu dianggap serius. Sebab tak semua kebaikan yang kita tanam akan berbuah kebaikan pula, karena banyak hal penyebabnya. Aku tak mau menyebutkannya, aku hanya malas berdebat akan hal itu. Sekarang ketika kau tau aku kotor, sudi kah kau membersihkan lumpur yang masih menempel di pipiku, mengangkatku pergi dari kubangan air sisa guyangan kerbau ini? Aku ini kotor, namun kau bisa membersihkan ku sebenarnya jika kau mau. Tercermin dari sikap ku kepadamu selama ini.
Jadi dengan diriku yang kotor seperti ini, naif kah diriku jika masih mengaharapkanmu?

A2F A.B.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar